Masuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah Tinggi, Masyarakat Lutra Diminta Tetap Waspada

Devi Trisnawati

Luwu Utara, MP – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI menyebut, Kabupaten Luwu Utara termasuk ke dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah tinggi.

Untuk itu, masyarakat tetap diminta untuk selalu waspada terhadap potensi bencana banjir bandang susulan di kemudian hari.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Koordinator Bagian Informasi dan Humas Komando Tanggap Darurat Bencana Banjir Bandang Luwu Utara, Arief R. Palallo, saat seusai mengikuti Rakor Penanganan Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor Luwu Utara yang dilaksanakan secara virtual oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Rabu (22/7/2020).

Badan Geologi Kementerian ESDM adalah lembaga yang memiliki otoritas untuk melakukan pemetaan zona kerentanan gerakan tanah.

BACA:  [POLLING] Siapa Calon Bupati Luwu Utara 2020 Pilihan Anda?

Jadi tanah kita ini memiliki gerakan tanah yang sangat rentan bergerak, sehingga ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, maka berpotensi terjadi pergerakan tanah di wilayah pegunungan,” jelas Arief.

Karena itu, ia menghimbau agar masyarakat Luwu Utara tetap waspada terhadap potensi terjadinya banjir bandang susulan.

Salah satu rekomendasi dalam rapat tadi adalah masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi terjadinya banjir bandang susulan, karena intensitas curah hujan juga masih cukup tinggi alias di atas normal,” imbuhnya.

Kajian Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan potensi gerakan tanah di bulan Juli masih tetap ada di wilayah Kabupaten Luwu Utara.

Hujan sampai saat ini kan masih terjadi, sehingga gerakan tanah di daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, bisa memicu kembali terjadinya pergerakan tanah yang lebih aktif dan mudah untuk bergerak,” ujar Arief yang juga Kadis Kominfo Luwu Utara.

BACA:  Dompet Dhuafa Hadirkan Dapur Keliling ke Masamba Luwu Utara

Ia juga menyebut bahwa penyebab lain dari banjir bandang pekan lalu, berdasarkan kajian Badan Geologi adalah adanya gangguan kestabilan lereng, di mana terjadi peningkatan kejenuhan lereng yang menyebabkan terjadinya longsor di batas sungai.

Kondisi ini, lanjutnya, telah berlangsung beberapa bulan terakhir sebelum terjadinya banjir bandang (13/7) lalu.

Dengan demikian Badan Geologi Kementerian ESDM telah memberikan rekomendasi agar masyarakat tidak membangun rumah atau tempat berkumpul di sekitar aliran sungai.

Untuk yang di hulu, masyarakat diminta menanam tumbuhan vegetasi berakar dalam dan kuat guna menahan lereng bekas longsor di pegunungan Magandang dan Lero. Hal ini dihimbau agar bisa mengantisipasi terjadinya banjir bandang.

Kabar Terkait